Kata SETIA#1
Sebagai manusia yang masih dan terus memohon kepada Sang Pencipta,
aku berharap diberikan ruang yang terbaik dalam hidup. Aku yakin betul bahwa
tugas manusia hanya meminta kepadaNya dan tak lupa untuk berusaha agar semua
kemauan dapat terwujud. Dan sebagai manusia biasa, aku juga yakin bahwa akhir
dari usaha tersebut tak jarang yang mengecewakan hati, dengan begitulah kita
dilatih untuk ikhlas dan tidak lupa untuk terus bekerja keras serta tetap pada
jalanNya.
Pagi ini aku memulai langkah kakiku dan selalu berharap
diberikan kemudahan untuk satu hari ini dan seterusnya. Tidak mudah tinggal
sendiri di tempat asing seperti ini, keraguan dan kecemasan sudah melekat dari
awal aku memutuskan untuk jauh dari kedua orangtua. Keikhlasan mereka yang
kubutuhkan untuk saat ini, agar jalanku selalu mendapat ridhoNya. Cahaya matahari
yang begitu terang, memberikanku semangat untuk menjalankan kegiatan hari ini.
Sesuai dengan rencana awal, aku sudah berjanji kepada
seseorang untuk bertemu di halte tempat biasa dia datangi sebelum pergi
ketempat tujuan. Dia adalah seorang pria seusia ku dan senasib dengan ku, yang
berjuang di tempat asing ini untuk
memperoleh apa yang kami inginkan nantinya. Tapi, dia lebih dahulu berada di
tempat ini sebelum aku. Maka dari itu, aku harus banyak belajar darinya.
Tepat pukul 07.00 aku tiba di halte tersebut, aku melihat ia
sedang duduk diantara dua wanita yang usianya jauh lebih tua dari kami. Aku
langsung menyapanya saat itu, dan diapun seketika membalas sapaku. Ya, dia
merupakan orang yang ramah dan baik menurut ku. Tanpa berfikir panjang, kamipun
langsung menaiki bus yang sudah ditunggu sejak 10 menit yang lalu. Kebetulan
ada dua kursi kosong di pojok kiri dan menjadi kursi untuk kami berdua.
Tanpa banyak perbincangan di sepanjang jalan, aku lebih
menikmati perjalanan dengan memandangi kiri dan kanan. Ini pertama kalinya aku
melihat pagi hari dari tempat yang berbeda, hanya bahagia yang kurasa saat itu.
Sedangkan dirinya, hanya membaca buku bacaan yang aku tak tau isinya apa. Tapi,
di menit ke 10 saat kami masih di dalam bus itu, dia memulai pembicaraan
denganku. Dia mengatakan bahwa malam ini akan diadakan pementasan seni khas
daerah, dia berniat mengajakku agar aku lebih familiar dengan tempat ini
nantinya.
Dan jawaban ku pada saat itu adalah iya, sudah pasti iya,
karena aku menyukai pertunjukkan seni jenis apapun. Ketika dia mendengar
jawabanku, wajah bahagia yang ia tunjukkan dari kedua lesung pipinya yang
dalam. Karena memang pada dasarnya ia tidak banyak bicara, jadi aku mencoba
untuk memahami maksudnya dari gestur yang ia tunjukkan.
Tak terasa, kami pun sampai di tempat tujuan dan sekaligus
berpisah untuk menuju ke kelas masing-masing. Terima kasih sudah menemaniku
sampai tempat tujuan, kalimat itu yang aku ucapkan sebelum berpisah. Aku
berjalan kekanan sedangkan ia ke kiri. Ia berjalan lurus tanpa menoleh
kebelakang lagi. Selama perjalanan menuju kelas, aku teringat kalimatnya
sewaktu di bus. Ia mengatakan, bahwa akan menungguku di halte tepat pukul 8,
setengah jam sebelum pertunjukkan
dimulai. Karena aku tau dia adalah orang yang super sangat on time, maka
dari itu aku mengusahakan sebelum jam 8 aku sudah ada di halte tersebut.
Waktu sudah menunjukkan pukul 6 sore dan aku pun sudah
menyelesaikan kuliah pada hari itu. Bahagia ku rasa, pertama kali kuliah dan
mengesankan sekali bagiku. Aku pun menggunakan langkah cepat untuk menuju halte
dan haru tiba dirumah sebelum jam 8 malam. Campur aduk perasaan ku ketika
perjalanan pulang, perasaan yang sering aku rasakan ketika akan mengalami hal
buruk. Ada apa ini? Fikirku, gelisah sekali aku saat itu. Ku pandangi keluar
jendela, berharap tidak ada hal aneh yang akan terjadi. Dan semua itu seketika
tidak menjadi kenyataan, bus yang aku naiki mengalami sedikit kecelakaan. Kedua
ban depan yang menopang bobot bus mengalami kebocoran. Berapa lama lagi ini akan
selasai fikirku, waktu sudah pukul 7.30 malam.
Keringat bercucuran membasahi wajahku, terbayang wajahnya
yang sudah berada di halte tempat kami janjian untuk pergi ke pementasan itu.
Ingin rasanya aku terbang untuk menjumpainya, tapi apa daya semua sia-sia dan
bus tersebut masih harus di selesaikan. Kalau pada saat itu sudah ada teknologi
canggih seperti sekarang, maka tidak sulit ku rasa.
Ya, ini adalah tahun 1995, dimana komunikasi hanya teruntuk
orang-orang berduit, apa daya aku yang hanya mahasiswa pas-passan. Bagaimana
keadaan dia, marahkah dia padaku? Kesalkah dia padaku? Inginkah dia memaki ku
ketika bertemu? Semua pertanyaan itu terbang-terbang di fikiranku. Gila
rasanyanya aku saat itu, kepada siapa aku meminta tolong? Penumpang hanya
berisi 3 orang. Bus susulan yang akan lewat masih ½ jam lagi, dan itu akan
sia-sia fikirku.
Bagaimana ia???????????


Comments
Post a Comment