Kata SETIA#3
“adiknya teman mas kuliah di Jogja, satu kampus dengan kamu
tetapi dia lebih awal masuk kuliah dibanding kamu karena sewaktu SMA ia
akselerasi, ya semoga bisa sedikit membantu kamu selama disana nanti” kalimat
tersebut disampaikan kakakku bebarapa bulan yang lalu ketika aku memutuskan
untuk kuliah di luar kota. “oke, namanya siapa?cowok atau cewek?” kataku.
“cowok, namanya Libra. Emmm, baik kok orangnya. Kakaknya itu temen mas sewaktu
SMP” begitu info sedikit tentang pria itu. “sip kalau gitu.” Jawab singkat
dariku. Keputusan untuk tinggal dan menempuh kuliah di daerah perantuan bukan
keputusan yang mudah dariku.
Aku terlahir sebagai anak bungsu yang hanya
memiliki seorang kakak dan ibu, sedangkan ayahku sudah meninggal sewaktu aku
berusia 10 tahun. Semenjak hal itu, posisi kakak juga sudah cukup menggantikan
peran ayah, kakak bekerja sambil kuliah demi membantu keuangan keluarga ini
karena gaji pensiun ayah sebagai PNS tidak begitu cukup untuk kebutuhan
sehari-hari. Ya, setidaknya aku bisa meminta ke kakak kalau butuh skin care
atau alat makeup lainnya,hahahaha.
Hal tersebut seketika melintas difikiranku selama aku
berjalan menuju rumah. Nah, tidak begitu banyak kan info yang aku dapat tentang
pria misterius tersebut, hanya namanya saja, Libra. Nama yang unik menurut ku,
seperti mewakili sifat dan karakter Libra yang halus dan lembut. Yang perlu aku
lakukan sekarang ini adalah mencari tau tentang dirinya lewat teman-teman
kampusnya. Dengan begitu, aku bisa mengenalnya lebih jauh.
Langit malam semakin indah ku lihat, kebiasaan sejak kecil
yaitu memandangi keluar jendela sampai larut malam tiba. Hanya memandangi
langit yang kosong itu, fikiran ku terasa kembali bersih. Tapi menurutku,
langit tidaklah kosong seperti orang-orang bilang, langit itu bisa kita isi
dengan imajinasi kita sendiri. Dengan langit, orang orang bisa memandang ke
atas tanpa takut bermimpi lebih jauh. Aku berharap, di tempat baru ini aku akan
menemukan apa yang aku cari, mewujudkan impianku sejak kecil.
Tiba-tiba di sela-sela lamunanku, terdengar seperti ada yang
mengetuk pintu rumahku. “ya, sebentar” kataku. Kubuka pintu tersebut dan
kudapati pria misterius itu sudah beridiri di depan pintu sambil membawa
sebungkus makanan. “mas, ngapain kesini malam-malam?” tanyaku. “tidak apa-apa,
tadi aku tidak sengaja lewat jalan ini dan membeli makanan yang lumayan enak di
makan ketika malam hari.”katanya datar dengan wajah yang tidak senyum, juga
tidak marah. “waduh, ini makanan buat vani?” tanyaku dengan PD dan sedikit
tersenyum. “iya, pasti kamu belum makan kan? Dan kenapa kamu duduk diluar malam
malam gini?” katanya.
“biasa mas, kalau lagi capek, saya suka duduk di luar sambil
memandang langit. Hehehehe” kataku sambil tetap beridiri di hadapannya. “oh
begitu, ini makanannya. Di makan ya dan saya pamit dulu. Ingat, angin malam
tidak baik” katanya sambil memberikan sebungkus makanan itu kepadaku. “berapa
mas?” seketika aku teriak karena dia langsung putar balik dan pergi.“enggak
usah, ambil saja” katanya sambil teriak
dari kejauhan.
Keanehan apa lagi ini???? Ya tuhan????


Comments
Post a Comment