Kata SETIA#2
Seseorang yang baru aku kenal 2 hari lalu di bandara
tepatnya pada lokasi kedatangan penumpang, seorang lelaki yang di kenalkan oleh
kakakku untuk menjemputku ketika tiba di daerah ini. Ya, walaupun kesan pertama
ku dengannya tidak banyak, tapi aku belajar sedikit karakternya yaitu dia
adalah orang yang sangat amat pendiam, tidak banyak pembicaraan pada saat itu.
Berbeda denganku yang lebih banyak ngomong, apalagi berada di tempat baru.
Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang menggugah perasaan ini.
Tepat pukul 8 malam, bus yang aku naiki juga belum selesai
diperbaiki dan bus selanjutnya ternyata tidak ada lagi. Jam 8 merupakan jam
terakhir bus menuju rumah tempat tinggalku. Malam itu benar-benar menjadi malam
yang paling memilukan bagi diriku, entah apa yang harus aku lakukan. Aku hanya
memohon kepadaNya untuk membuat suatu kejadian yang menyebabkan dia untuk tidak bisa datang ke acara
pertunjukkan itu.
Sambil duduk di pinggir jalan dan memandangi langit,
berharap mendaratlah pesawat pribadi untukku dan membawa raga ini ketempat pria
baik itu. Ya Tuhan, berikanlah kemudahan untukku malam ini, sekali saja.
Sungguh, aku malu kepada dirinya, masa janjian pertama kali sudah kurusak hanya
karena bus yang mengalami bocor ban, itu tidak masuk akal. Ingin rasanya ku
teriak sekuatnya, agar semua peri bangun untuk membantuku.
Yes, jam sudah menunjukkan pukul 9 malam. Selesai juga
musibah ini, ban mobil tersebut sudah kembali normal, aku dan penumpang lainnya
sudah bisa melanjutkan perjalanan. Perasaan gembira campur cemas, sudah ada
didiriku sejak 1 jam yang lalu. Aku sudah siap mendapati wajah pria baik itu
berubah menjadi amarah bak peri baik yang tersihir oleh peri jahat ciptaan
neraka. Panik, hatiku panik kala itu. Jalanan terasa lama bagiku, ku pandangi
jam , kulihat jarum jam yang berputar seakan tidak berputar lagi. Please,
tolong tenangkan hati wanita malang ini ya Tuhan.
Bus yang penuh drama ini sudah sampai di halte tujuanku,
lega fikirku. Kupandangi ke arah halte, tidak ada satu orangpun disana. Dia
sudah pergi? Hanya kalimat itu yang ada difikiranku. Sudah kuduga, pasti dia
sudah pergi, kan janjian denganku jam 8 di halte tersebut. Sekarang sudah jam
10 malam, pasti dia sudah menikmati pertunjukkan sambil memikirkan cara hendak
memarahiku ketika bertemu esok di halte ini lagi.
Aku menuruni anak tangga bus dengan perlahan, sambil ku pandangi
sekeliling dengan memastikan bahwa dia benar-benar sudah tidak ada disini.
Beberapa penumpang sudah berjalan meninggalkan halte, sedangkan aku masih
berdiri di halte, entah mengapa aku masih ada sedikit fikiran bahwa ia berada
disekitar tempat ini. “hey” satu kata yang tiba-tiba mengagetkanku. “eh, mas,
kok...” kataku. “iya, ini aku. Aku masih disini” itu kalimat yang keluar dari
dirinya. Sumpah, dia masih disini? Dia tidak pergi? Masa sih?.
“maafkan Vani ya mas, tadi ada kecelakaan kecil di jalan dan
saya bingung memberitahu mas lewat apa” itu kalimat klarifikasi dariku, yang
aku rasa pantas aku utarakan. “ya gak papa, memang kita janjian jam 8 akan
bertemu disini, dan saya sudah menunggu dari jam 7.30 malam” dan jawabannya
membuatku heran sekali, begitu betahnya ia menungguku selama itu. “dan mas
sekarang pasti sudah pulang dari pertunjukkan itu kan?” tanyaku.
“kan saya sudah bilang, saya menunggu kamu dari jam 7.30
sampai sekarang. Itu tandanya, dari sejak 2 jam yang lalu, saya disini saja
menunggu kamu” jawabnya. “berarti, mas tidak ke pertunjukkan itu?” tanyaku
lagi. “enggak, saya menunggu sampai kamu tiba disini. Saya yakin, kamu akan
datang tapi tidak di jam yang tepat sesuai janji diawal”. Ya allah, betapa
baiknya dia, siapa dia sebenarnya, malaikatkah? Hantu baik kah? Atau siapa
dia?.
“sekali lagi, saya minta maaf y mas. Saya tidak bermaksud,
kejadian di bus tadi bukan kemauan saya” begitu kataku sambil menundukkan
kepala dan tidak berani memandang wajahnya. “iya tidak apa-apa, semua sudah
takdir Allah” jawabnya dengan wajah yang sedari tadi tidak menunjukkan kemarahan
sedikitpun. “terimakasih mas. Bagaimana kalau besok mas saya traktir makan di
kantin, anggap saja sebagai tanda permintaan maaf saya kepada mas” kataku sambil melipat tangan
seakan memohon jawaban ya darinya. “tidak usah, saya lakukan ini dengan ikhlas,
tabung saja uangnya. Tidak baik mentraktir orang lain di awal kuliah. Nanti
malah berkurang uang jajan kamu” jawaban di luar dugaan untuk kesekian kalinya.
“tidak apa-apa mas, saya ikhlas.” Kataku. “lain kali saja,
nanti bakal ada waktu dimana kamu harus traktir saya” begitu jawabnya, sungguh
luar biasa ini orang. Tidak pernah kutemukan sebelumnya. Allah benar-benar
mempertemukan aku dengan pria yang begitu baik, di luar manusia baik pada
umumnya. “ terimakasih mas, kalau gitu saya pamit pulang. Sampai bertemu besok”
kalimat yang aku sampaikan sebelum berpisah pada malam itu. “iya, hati-hati ya.
Besok bertemu di halte jam 7 ya. Agar kita bareng lagi ke kampus” katanya.
“tidak usah mas, saya ke kampus jam 10. Mungkin saya pergi sendiri saja.
Insyaallah saya sudah hafal jalan ke kampus. Terimakasih atas tawarannya ya
mas” begitu kata ku. “oke, baiklah. See u tomorrow” kalimat perpisahan pada
malam itu darinya.
Sepanjang perjalanan menuju rumah, aku terus memikirkan
sifatnya yang sangat baik itu. Aku tidak menyangka ada orang sebaik itu di dunia ini. Aneh saja
fikirku, bisa-bisanya dia menungguku selama itu. Untung saja aku datang 2 jam
kemudian, kalau tidak? Apa dia masih menunggu terus? Setia bener ini mas –mas
fikirku.
Siapakah dia??? Dari mana dia sebenarnya?



Comments
Post a Comment