Kata SETIA#4
Aneh, keanehan yang kesekian kalinya. Bisa-bisanya dia lewat
depan rumahku, melihat aku yang sedari tadi duduk di balkon dan dia mampir
hanya untuk memberikan makanan ini kepadaku? Apa ini sebenarnya?. Sambil
menutup pintu dan meletakkan bungkusan makanan itu di dalam kulkas karena aku
gak akan makan apapun di malam hari selain minum air putih. Ya Tuhan, kegilaan
apa lagi ini? Tolong tunjukkan siapa dia. Rebahan tubuhku di atas kasur membuat
aku terlelap hingga pagi. Tertidur karena memikirkan pria baik itu dan berharap
menemukan jawabannya di dalam mimpi nantinya.
Mentari pagi sudah di depan mata, langit malam yang hitam
tanpa setitik warna lain, kini sudah tergantikan dengan cerahnya mentari pagi.
Pagi ini aku awali dengan sedikit berolahraga, aku memilih untuk berlari-lari
berkeliling komplek kecil yang hanya dihuni oleh mahasiswa penerima beasiswa
sepertiku. Ya, aku salah satu dari sekian siswa di kampungku sebagai penerima
beasiswa pemerintah. Tanpa beasiswa tersebut, tampaknya aku tidak bisa pergi
sekolah sampai sejauh ini.
Aku terus berlari-lari mengelilingi komplek sambil
memandangi sudut-sudut rumah di sekelilingku.
“vani, lari juga” tiba-tiba
seorang wanita menghampiriku, kok dia mengenali namaku. “hey, kok kamu tau
namaku?”kataku heran sambil mengehentikan langkahku. “iya dong, siapa yang gak
kenal kamu. Kamu kan adik dari Fatih.” Katanya sambil senyum-senyum. “kok kamu
tau kakaku? Dari mana”tanyaku heran untuk kedua kalinya. “iya, semua anak
kampus juga tau kakak kamu dan kamu” begitu katanya.
“emmm, dari mana taunya?” tanyaku lagi. “ kakak kamu kan
penulis hebat itu, nama dia sudah tercantum di seluruh surat kabar dan majalah
kampus. Masa kamu gak tau sih?” katanya. “ohya? Emm sorry, aku gak suka baca
dan kakak juga gak pernah cerita denganku.” Kataku pelan. “emmm, aku juga tau
karena beberapa waktu lalu ceritanya di pajang di mading kampus.” Kata wanita
ini yang aku tidak tau namanya. “ohya, nama kamu siapa ya? Maaf” kataku
penasaran.
“aku Lili, teman lama kakak kamu”katanya. Yang aneh adalah
kenapa aku tidak pernah melihat wanita ini ya, padahal dia teman lama kakaku.
Aneh banget. “oh iya, salam kenal kak.
Emmm, kalau kakak teman lama kakakku, berati kakak kenal mas Libra” kataku
gregetan. “kenal banget. Dia orang paling aneh sejagad raya kayaknya.” Jawaban
di luar dugaanku, aku mengira bahwa kak Lili akan mengatakan bahwa mas Libra
adalah orang paling baik.
“hah? Aneh? Kok bisa?” kataku sambil menatap tajam mata kak
Lili. “iya, liat aja deh. Pakai baju gak pernah bener, kalau bicara seadanya”
katanya lagi. “kalau ke aku enggak tuh.” Kataku sedikit tidak setuju dengan
pernyataan kak Lili tersebut. “karena baru ketemu kali, jadi belum terlalu tau.
Entar kamu juga tau sendiri” kata kak Lili sambil mengajakku untuk berbicara
sambil lari agar tetap olahraga pagi. “iya kali ya. Aku juga penasaran dengan
tuh orang. Tingkahnya di luar dugaan” kataku. “kalau gitu, kamu main aja ke
gedung fakultasnya, siapa tau bisa lebih mengenalnya” kak Lili menawarkan aku
dengan baik. “kakak mau temani vani pagi ini?” ajakku.
“oke, kita pulang dulu. Bersih-bersih terus berangkat bareng
ke kampus. Gimana?” katanya kepadaku. Kami pun berlari menuju rumah
masing-masing dan bersiap untuk bertemu di halte sebelum pergi ke kampus
bersamaan. Sepanjang aku bersiap-siap ke kampus , aku juga menyiapkan 2 potong
roti sandwich yang aku fikir alangkah baiknya aku berikan ke mas Libra ketika
bertemu nanti, hitung-hitung membalas kebaikannya kemarin kepadaku.
Aku dan kak Lili pun sudah berada di bus menuju ke kampus
dan berhenti tepat di halte fakultas mas Libra. “nah ini dia, fakultas seni.
Fakultas mas Libra mu itu” kata kak Lili. “ih kakak, kok Libra ku.” Jawabku
agak sedikit malu-malu. “kan kamu pensaran banget sama ni anak. Udah tau aneh,
masih di cari juga” katanya. “hehehehe, ohya, mas Libra fakultas seni
Pertunjukkan? Jurusan apa?” tanyaku. “setauku sih jurusan teater” jawabnya. “oh
pantes saja .” kataku sedikit mengingat ajakan mas Libra kemarin untuk menonton
pertunjukkan seni. “pantes apa?” tanya kak Lili sambil menggandeng tanganku dan
menarik ku menuju gedung seni pertunjukkan.
“waktu lalu, tepatnya kemarin, mas Libra mengajakku nonton
pertunjukkan seni, tapi gak jadi” kataku lesu. “kenapa? Pasti gara-gara kamu
kan?” katanya. “kok kakak tau?” tanyaku penasaran. “ya taulah, Libra kan
terkenal menepati janji, ya itu sifat baiknya dia selain aneh tingkah lakuknya
itu” jawab kak Lili. “berarti mas Libra terkenal setepat itu? Maksudku, se on
time itu?” tanyaku sambil duduk di kursi taman yang indah. “iya, manusia dengan
amat sangat tepat waktu”katanya.
“ngomong-ngomong, kamu jurusan apa?” kata kak Lili sepanjang
jalan sambil menyusuri fakultas mas Libra. “aku seni musik mbak, fokus di biola”
kataku. “wah, hebat sekali. Kalau aku lagi S2 dan jurusan desain” kata kak Lili sambil
mengajakku ke kantin fakultas Seni Pertunjukkan ini. Karena katanya, maknan
disini paling enak diantara makanan fakultas lain. “berarti, kalau Vani butuh
desain gambar, boleh minta tolong kakak dong.” Kataku. “yap, boleh banget. Ohya,
kakak kamu apa kabar? Udah lama aku gak ketemu dia. Pasti udah kerja ya?” di
jaman ini, alat komunikasi belum merajalela. Jadi, informasi juga sangat sulit
di dapat. Terlebih lagi, kak Lili dan mas Fatih merupakan teman sewaktu kuliah
S1 dan sudah tidak bertemu sejak 3 tahun lalu.
“mas Fatih baik kok. Dia sudah kerja karena mas Fatih sudah
menjadi tulang punggung keluarga kami sejak aku SD” kataku. “iya, Fatih pernah
cerita soal itu kok sewaktu kita masih satu kelas” kata kak Lili sambil
mengelus pundakku karena mataku seketika berlinang. “kuliah yang bener, buat
ibu dan mas kamu bangga. Oke” katanya kepadaku agar tersenyum lagi. “siap kak. Makasi
ya kak, udah diajak makan terus berkeliling fakultas. Hehehe”.
“iya sama-sama. Eh, lihat tuh mas Libra kamu.” Tiba-tiba kak
Lili mengagetkanku dan menunjuk ke arah kanan. Tepa ke arah mas Libra. Pria itu
jalan mendekatiku, jalannya yang tegak beridiri dengan tas ransel di bahunya
serta buku kecil di tangan kanannya. Tuhan, kenapa jantung ini berdetak begitu
cepat, rasanya mau lepas dari raga ini, ada apa ini?. “eh Vani. Ngapain disini?
Gak kuliah?” mas Libra langsung menyapaku dengan senyum indahnya. “kuliah kok
mas, jam 10 nanti. Hehehe” kataku sambil sedikit terbata-bata. “oh” jawabn
singkat.
“ohya mas. Ini ada sedikit ucapan terimakasih dariku untuk
mas Libra. Semoga suka. Please, harus diterima, jangan di tolak” kataku dengan
nada sedikit memaksa. “terimakasih” katanya sambil membuka kotak makanan yang
aku berikan. “ yuk Van, kita kuliah. Udah jam 9.30 ni” kata kak Lili memecahkan
tatapan aku dan mas Libra. “iiiiyaaa kak”kataku malu. “hati-hati ya” mas Libra
pun melepas kepergian aku dan kak Lili.
“Van, tunggu” teriak Mas Libra dari kejauhan. “kak bentar,
kayaknya mas Libra panggil aku deh” kataku sambil menoleh kebelakang. “entar
sore aku ke kos kamu ya. Ada yang mau aku bicarakan. Penting” katanya sambil
menatap mataku dengan dalam. Sumpah, jantungku serasa mau jatuh dan terkubur di
tanah, apalagi ini?. “emmmmm. Iya mas. Saya tunggu ya.” Kataku yang tidak tau
harus jawab apalagi yang sudah terlanjur terpesona dengannya. “oke.”



Comments
Post a Comment